Pengertian dan Penyebab Perbedaan Bunyi Onomatope

By | August 9, 2020

semuatahu.web.id – Pengertian dan Penyebab Perbedaan Bunyi Onomatope – Bahasa adalah salah satu untukan dalam kebudayaan yang ada di seluruh masyarakat di dunia dan digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan pada orang lain.

Dalam berinteraksi dengan orang lain, manusia dituntut untuk bisa menyampaikan informasi, baik berupa rangkaian kata-kata yang mempunyai tujuan abstrak (tidak bisa digambarkan) atau pun tiruan bunyi, seperti gemericik air, kicau burung, tangisan, bel pintu, dan lain sebagainya.

Tiruan bunyi di atas disebut onomatope. Onomatope tersebut disampaikan kepada lawan bicara secara lisan dan tertulis. Bentuk onomatope secara tertulis dapat kita temukan pada novel, puisi, dan paling banyak ada pada komik.
Menurut Grevisse (1980 : 133), onomatope adalah kata-kata tiruan. Di mana fonem-fonem direpresentasikan dengan cara yang kurang lebih sesuai dengan bunyi aslinya.

Contohnya seperti bunyi yang dihasilkan oleh untukan tubuh manusia (bruits du corps humain), teriakan binatang (cris des animaux), bunyi alat musik (sons des instruments de musique), bunyi mesin (bruits des machines), bunyi-bunyi yang menyertai fenomena alam, dan sebagainya.

Bunyi onomatope di berbagai negara juga berbeda. Penyebab perbedaan bunyi onomatope tersebut terkadang di pengaruhi oleh kultur pengucapan masyarakat.

Kridalaksana (2001:149) mengatakan bahwa onomatope merupakan alat penamaan benda atau perbuatan dengan peniruan bunyi yang diasosiasikan dengan benda atau perbuatan tersebut, seperti berkokok, suara dengung, deru, aum, cicit, dan sebagainya.

Di dalam komik, onomatope adalah bentuk tulis dari bunyi bahasa yang mampu menghidupkan setiap kejadian di dalamnya. Tanpa adanya onomatope, komik akan terasa sunyi, peristiwa yang ada di dalamnya juga terasa hambar.
Sebagai contoh, berikut ini merupakan bunyi sirine kapal yang akan disajikan dalam bahasa Prancis dan bahasa Indonesia.

Bahasa Perancis: Tooot
Bahasa Indonesia: Tuuut

Tulisan Tooot dan Tuuut di atas adalah representasi bunyi dari sirene kapal. Pada kata Tooot dan Tuuut mempunyai bunyi fonem, yang apabila dijabarkan dalam transkripsi fonetik, [to:t] dalam bahasa Prancis dan [tu:t] dalam bahasa Indonesia.

Terdapat persamaan pola silabe pada kedua onomatope, yakni pola silabe CVC. Bunyi konsonan [t] pada kedua onomatope tersebut tidak berubah, tetap bunyi [t] yang mempunyai ciri-ciri konsonan oklusif apiko dental tak bersuara.

Akan tetapi, bunyi vokal pada kedua onomatope berbeda. Penyebab perbedaan bunyi onomatope pada suara sirena kapal di kedua negara tersebut dikarenakan ciri vokalnya.

Pada onomatope bahasa Prancis [to:t] terdapat bunyi vokal [o] yang mempunyai ciri-ciri vokal belakang tengah bulat. Sementara, pada onomatope bahasa Indonesia [tu:] terdapat bunyi vokal [u] yang mempunyai ciri-ciri vokal belakang tinggi bulat.

Dari contoh di atas, ditemukan fakta bahwa ada tiruan bunyi yang berasal dari sumber yang sama, tetapi direpresentasikan dalam tulisan dan ucapan secara berbeda. Tulisan pada onomatope juga cenderung berubah.
Pada dasarnya, perubahan bahasa merupakan perubahan yang bersifat semesta atau universal. Perubahan bahasa sebagai fenomena yang bersifat umum dapat diamati melalui perubahan bunyi.

Dalam artian lainnya, perubahan secara mendasar dapat diamati pada tataran fonologi yang merupakan sebuah tataran yang paling dasar dan penting dalam rangka telaah dalam linguistik bandingan (Keraf, 1991:6-7).

Ullman (2007:104) menyatakan bahwa, onomatope melibatkan sebuah hubungan intrinsik antara nama dan makna. Contoh dari hubungan intrinsik tersebut dapat dilihat pada contoh nama burung yang mempunyai suara atau bunyi sesuai namanya.

Hal tersebut menjadi salah satu penyebab perbedaan bunyi onomatope. Misalnya di Inggris, ada burung cuckoo (baca: ‘kuku’) yang memiliki kesejajaran bentuk diberbagai bahasa, seperti dalam bahasa Prancis menjadi coucou, Spanyol cuclillo, Italia cuculo, Rumania cucu, dan seterusnya.

Selain itu, terdapat pula beberapa bentuk onomatope yang memiliki hubungan satu dengan yang lain. Seperti pada orang Inggris, bunyi ayam jago merupakan cock-a-doodle-do, orang Prancis cocorico, orang Jerman kikeriki, orang Indonesia kukuruyuk.

Bentuk onomatope tersebut memiliki kesejajaran bunyi yang dihasilkan, tetapi mempunyai perbedaan morfofonemik onomatope yang dihasilkan oleh setiap bahasa. Sebab, pada kenyataannya onomatope tidaklah sama (atau seragam) antara satu dengan yang lain, atau satu negara dengan negara lain.

Perbedaan bunyi yang terdapat dalam tiruan bunyi atau onomatope antar negara dan bahasa adalah suatu hal yang menarik untuk diteliti.

Onomatope mempunyai peran yang sangat penting dalam hal pembentukan kata baru. Secara etimologi, kata onomatope berasal dari bahasa Yunani, “Onomatopoeia”, yang berarti pembentukan kata (création de mots). Dalam bahasa Prancis, Onomatopoeia lebih dikenal dengan istilah onomatopé.

Penyebab perbedaan bunyi onomatope yang terdapat pada hewan di berbagai negara diakibatkan adanya perbedaan sistem bunyi bahasa. Maka, tiruan bunyi yang dihasilkan pun berbeda meskipun sumber suara yang dihasilkan sama. Contohnya, menyebut suara kucing di Indonesia dengan ‘meong’, sedangkan di Jepang ‘nyannyan’.

Mounin (2000:158) menyatakan bahwa onomatope adalah istilah yang merujuk pada bunyi-bunyi yang ada di alam dan suara-suara yang meniru sesuatu yang didengar, seperti poum! Bang! Ronron dan tic tac. Dalam hal ini, onomatope adalah hasil tiruan bunyi (yang kurang lebih sama dengan suara aslinya) dan bersifat arbitrer.

Terdapat onomatope yang direpresentasikan secara berbeda. Padahal, sebenarnya perbedaan itu mengacu pada bunyi yang sama.

contoh onomatope:

– Suara hewan: menggonggong, mendesis, mengeong dsb.
– Suara lain: tercebur
– Suara manusia: ha-ha-ha
– Suara burung, di mana nama burung tersebut diambil dari suara yang dikeluarkannya.

Penyebab perbedaan bunyi onomatope yang ada pada hewan di sejumlah negara mempunyai karakter unik yang bisa dilihat dari sistem fonologinya. Fonologi adalah suatu bidang ilmu yang meneliti sistem bunyi sebuah bahasa, dan perbedaan bermacam bunyi hingga mampu membedakan makna.

Munculnya keanekaragaman onomatope juga akibat dari perbedaan daya tangkap atau keterdengaran (audibilté) dari masyarakat yang menetap di belahan bumi berbeda. Perbedaan daya tangkap tersebut sangat dipengaruhi oleh perbedaan bunyi fonem (satuan terkecil bunyi) yang ada dalam berbagai bahasa. Sebab, pada dasarnya setiap bahasa mempunyai aturan pengucapan fonem sendiri-sendiri.

Menilik sedikit mengenai sejarah onomatope, menurut Von Horder (via Arri, 2009) bahasa adalah lahir dari alam dan onomatope, yakni tiruan bunyi alam. Tiruan bunyi yang ditimbulkan oleh alam, seperti bunyi guntur, bunyi binatang, dan lain-lain.

Bunyi tiruan tersebut lalu direpresentasikan ke dalam bentuk onomatope yang ditujukan untuk tujuan-tujuan tertentu, yaitu sebagai alat komunikasi.

Istilah onomatope itu sendiri sebenarnya sudah di paparkan oleh plato pada tahun 427-347 SM mengenai asal-usul terbentuknya kata, yakni ada hubungan intrinsik antara bunyi bahasa dengan makna benda yang diacu.

Contohnya seperti di Bali, bunyi cekcek yang artinya adalah hewan cecak, yang berasal dari onomatope atau tiruan bunyi alam, yakni bunyi binatang. Setelah itu, pada abad ke-18 terdapat pemikiran untuk meniru-niru suara berisik, seperti bunyi poh-poh, yang berasal dari teriakan kuat atau seruan-seruan kuat.

Demikianlah artikel mengenai definisi dan penyebab perbedaan bunyi onomatope. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *